Seni Graviti, Cara Unik Berdemokrasi Soal Pemilu

20 Mar 2014

Tahun 2014 bisa dikatakan sebagai tahunnya politik. Dimana pada bulan April dan Juli akan ada hajatan hidup orang banyak terkait demokrasi dan kepemiluan. Perbincangan soal demokrasi dan kepemiluan ini seolah tak mengenal ruang dan waktu. Gema poitik mulai merangsuk masuk di setiap lini kehidupan sehari-hari. Tua dan muda mulai membahasnya, bahkan ada yang sekedar menyinggung bahwa politik itu hanya diisi oleh si pemilik kepentingan. Masyarakat pun kerap dijadikan sasaran bagi para kandidat partai politik untuk bisa mendapatkan simpatisan dan meraih kemenangan.

Perbincangan politik ini semakin menumbuhkan rasa emosional yang mendalam. Sehingga muncul dua pilihan mendasar, yaitu ikut terlibat dalam demokrasi dan kepemiluan atau membiarkan mereka menggrogoti hati nurani kita dengan pemberian bingkisan manis.

Politik itu kotor! Politik itu kejam! Politik itu tak mengenal kawan! Siapa saja bisa menjadi aktornya. Pertanyaannya apakah kita terus-terusan akan menjadi pemeran pembantu? atau mungkin sebagai figuran yang dibayar setiap per-episode?

Setelah melihat secara langsung fakta yang terjadi di lapangan, apakah kita mau menjadi seorang figuran yang terus membiarkan si sutradara (pengelola kepentingan) melakukan hal yang semaunya sendiri? Menurutku, ini soal bagaimana si sutradara mengemas cara-cara berdemokrasi, sehingga unsur kaku yang sering kita lihat, berubah menjadi sisi kreatif dan penuh inovatif.

Melihat dan mengamati sebuah gerakan tagih janji atau @GergajiKaltim yang begitu aktif menyuarakan soal demokrasi dan kepemiluan di media sosial - twitter, perlahan masyarakat mulai diberikan efek sadar soal sistem demokrasi yang ada saat ini. Melalui gerakan ini politik mulai dikemas secara menarik. Gerakan tagih janji ini menyasar kepada seluruh stakeholder yang ada, seperti para pemuda sebagai penggerak perubahan, pewarta media online yang piawai mengolah informasi secara independen serta pekerja seni lukis yang sedikit banyak memberikan pengaruh melalui gambar.

Street Art for Democracy

suasana Street Art for Democracy Kemarin di pelataran Tepian Mahakam

suasana Street Art for Democracy Kemarin di pelataran Tepian Mahakam

Nah, hari Rabu (19/3) kemarin, saya mengikuti gawean menarik @gergajiKaltim yang di beri nama “Street Art for Democracy”. Melibatkan para pekerja seni graviti Samarinda, @gergajiKaltim memberikan ruang berupa papan plywood berukuran 2m x 4m, yang dijadikan ajang buat mereka berekspresi terkait demokrasi dan kepemiluan. Bertempat di pelataran tepian mahakam, di depan kantor Gubernur Kalimantan Timur. Mereka menggambarkan kisah-kisah yang terjadi terkait kepemiluan. Dan lagi-lagi isu korupsi yang menjadi perhatian mereka. Menggunakan cat pylox mereka menggambarkan beberapa sketsa menarik. Mulai dari gambar “Jadilah Pemilih yang cerdas”, “gambar orang memegang toak, sambil berteriak tolak politik uang, sampai ada gambar wajah orang sambil mengatakan “apakah janji itu akan di tepati???”

Gerakan semacam inilah yang harusnya terus digodok, guna memberikan sisi edukasi tentang demokrasi dan kepemiluan terhadap kawan-kawan di luar sana yang merasa apatis terhadap politik. Menjadi pemilih cerdas dan tolak politik uang, seolah menjadi jargon utama yang musti disampaikan kepada masyarakat. Mengemas sisi politik dari tadinya kaku menjadi sesuatu yang menyenangkan, kemudian bisa diikuti oleh banyak orang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Tapi setidaknya kawan-kawan graviti samarinda yang telah berjuang melawan teriknya matahari, dan sudah mau memberikan sumbangsih karya seni graviti terbaiknya terkait isu kepemiluan di kota tercinta ini. Melihat aktivitas menarik yang terjadi di pelataran tepian mahakam kemarin, sejumlah pengguna jalan pun banyak yang berhenti untuk sekedar melihat, bahkan salah seorang pengguna jalan yang kebetulan lewat, ikut serta memberikan karya lukisannya diatas papan plywood yang masih kosong.

Hasil Karya Komunitas Graviti Samarinda di #SAD

Hasil Karya Komunitas Graviti Samarinda di #SAD

Karya-karya seni graviti ini nantinya akan di pamerkan di ruang publik kota Samarinda. Sehingga melalui media seni graviti ini, masyarakat bisa lebih awareness terhadap demokrasi dan kepemiluan. Sebagai pewarta media online, partisipasi yang bisa saya berikan adalah menuliskan fakta maupun opini terkait demokrasi dan kepemiluan di blog peribadiku ini. Kegiatan semacam ini merupakan cara yang unik untuk demokrasi di kota Samarinda. Lagi-lagi soal bagaimana mengemas demokrasi politik itu menjadi sesuatu yang menyenangkan, sehingga banyak orang terlibat di dalamnya. Dan @gergajiKaltim sedikit banyak telah berhasil melakukannya.

Harapan

Meskipun saya tidak begitu menyukai politik, tapi saya pikir itu semua hanya soal waktu dan bagaimana mengemas unsur-unsur yang terjadi di ranah politik agar terkesan tidak kaku. Demokrasi itu hak semua warga negara. Setiap orang bebas melakukannya dengan cara dan menggunakan media apapun. Sejauh ini saya mulai sadar, suka tidak suka, mau tidak mau, ranah politik akan terus bersinggungan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan akan menggorogoti hati nurani kita yang tidak memiliki ideologi. Masing-masing orang tentu memiliki ideologi yang berbeda, tetapi perebedaan bukanlah persoalan yang musti di perbincangkan secara serius, semuanya bisa di selaraskan dalam satu pesan yang bersifat nasionalisme.

Melalui tulisan ini, harapan saya kepada pembaca tulisan ini yang bersikap apatis terhadap politik, mau memberikan ide unik serta gagasan menariknya dan mau terlibat di dalam demokrasi dan kepemiluan, sehingga bisa sama-sama turun tangan demi terciptanya pemilu cerdas dan berkualitas.


TAGS Samarinda Graviti


-

Author

Follow Me