Skripsi dan Rasa Malas

30 May 2014

Tak terasa masa-masa kuliah yang saya mulai dari tahun 2009 memasuki babak akhir. Ibarat ajang pencarian bakat, saya sudah memasuki tahap grand final. Tapi bedanya di grand final (kuliah) ini, saya bukan harus mengalahkan seseorang untuk mendapatkan sebuah kemenangan (Gelar sarjana). Melainkan harus mengalahkan rasa malas yang ada pada diri setiap mahasiswa tingkat akhir termasuk diriku ini.

Kenapa begitu? karena masa-masa menjelang akhir kuliah atau semester akhir yang notabenenya sudah tidak ada teori lagi, begitu banyak godaan untuk menunda mengerjakan SKRIPSI. Diantaranya keasyikan bekerja, lalu skripsinya kecolongan. Terlebih rasa malas yang seolah tidak memiliki motivasi dan gairah untuk segera menyelesaikan skripsi. Kalau saya masuk dalam kategori rasa malas dan kecolongan akibat berada di zona nyaman bekerja paruh waktu. Selain itu, saya semakin asyik berselancar di dunia maya (twitter), dengan iming-iming ingin terus menambah network di berbagai penjuru Indonesia. Karena saya memiliki visi ingin menghubungkan orang dengan informasi.

Ku akui saya lemah soal teori komunikasi, tapi lemah secara teori bukan berarti saya tidak bisa berbuat apa-apa dari segi praktek, justru dengan sering terjun langsung ke dalam praktik komunikasi yang dimulai dari lingkup komunitas, saya bisa sedikit banyak belajar soal terapan komunikasi. Memahami perilaku, membaca gesture tubuh, memahami komunikasi non verbal, walau tak sejago Efendi Gozali. hehe

Bicara skripsi memang tidak terlepas dengan rasa malas yang seolah membayang-bayangi setiap perjalanan mahasiswa tingkat akhir, seperti saya ini. Pertanyannya, apakah rasa malas itu hanya dimiliki oleh mahasiswa akhir yang tak memiliki mimpi besar soal karir? Entahlaahh…

ayo kita diskusi…. :)


TAGS gaya hidup skripsi


-

Author

Follow Me