Menjadi Local Fixer Ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara

21 Jun 2014

Bareng @melianach dan @agoesrudianto

Bareng @melianach dan @agoesrudianto

Pada tanggal 19 Juni 2014, kemarin, saya mendapat kesempatan menjadi local fixer dalam kegiatan ekspedisi Warisan Kuliner Nusantara di 34 provinsi dalam 100 hari, membuat saya merasa bangga. Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara menjadi provinsi yang masuk dalam tujuan ekspedisi tersebut. Diikuti dengan empat kota tujuan, yaitu Tenggarong, Samarinda, Balikpapan dan Tarakan (kaltara). Kegiatan ekspedisi warisan kuliner nusantara ini merupakan bagian dari kegiatan kecap Bango.

Selain bangga menjadi local fixer, saya bangga bisa menjalin kerjasama dengan pihak yang memang memiliki kompetensi dan totalitas penuh di bidang kuliner. Sekaligus bisa mengenalkan dan mempromosikan makanan khas kota Samarinda.

Meski pada awalnya ada sedikit kesulitan untuk menemukan kuliner khas di kota tepian ini. Dikarenakan Samarinda adalah kota heterogen atau bisa disebut sebagai kota anonim dalam hal kuliner, tergantung dari sumber akarnya, ujar @timpakul dikutip dari akun twitternya. Tidak memiliki suku asli dan memiliki keberagaman suku budaya, hal itulah yang menjadi alasan kuat saya mengalami kesulitan untuk menemukan makanan khas Samarinda.

Ketika saya koordinasikan dengan tim ekspedisi warisan kuliner yang akan menjelajah kuliner Samarinda, yaitu MelianaChristanty (chef) dan ditemani Agoes (fotografer/videografer). Ternyata ia sedikit banyak tahu daripada saya, bahkan ia merekomendasikan 3 jenis kuliner yang akan di icip-icip. 3 jenis kuliner itu adalah nasi sobot ubi, ayam cincane dan bubur gunting.

WoW! 3 jenis kuliner ini cukup asing di telingaku. Dari situ saya mulai melakukan investigasi untuk ketiga jenis kuliner yang bakal di icip-icip tersebut. Mulai menanyakan ke Kepala Dinas Pariwisata Samarinda, Penikmat kuliner, sempat share di media sosial juga dan pada akhirnya saya mendapatkan titik terangnya, yaitu koordinasi ke PKK kota Samarinda (Ini juga berdasarkan rekomendasi dari kawan - @dragonohalim ). Disana saya berkenalan dengan ibu Dayang selaku sekretaris PKK kota Samarinda. Beliau begitu menguasai soal ketiga jenis kuliner tersebut. Sempat cerita panjang lebar, mulai dari Samarinda itu kota perpaduan dari segi kuliner dan ternyata ketiganya ini bukan makanan biasa yang dihidangkan di rumah makan, melainkan masakan rumahan atau keluarga. Justru itu agak sedikit langka, untuk bisa di icip-icip.

Dari obrolan dan koordinasi yang berlarut-larut soal,apakah PKK kota bersedia menjalin kerjasama untuk menghidangkan ketiga jenis kuliner tersebut? hhmm… awalnya sih baik-baik aja, tapi akhirnya ibu Dayang dengan mengucapkan maaf tidak bisa menjalin kerjasama dengan alasan tertentu. Sehingga beliau mengarahkan saya ke ibu Obar, Ibu PKK Kecamatan Sungai Pinang. Kebetulan beliau juga menguasai banyak soal ketiga jenis kuliner itu. Dengan sebelumnya melakukan penjelasan mengenai tujuan kami dan sedikit banyak melakukan pendekatan persuasif melalui telepon, akhirnya ibu Obar bersedia untuk menghidangkan ayam cincane, nasi sobot ubi dan bubur gunting.

Bersambung…


TAGS warisan kuliner Samarinda kuliner Samarinda


-

Author

Follow Me